Jumat, 07 Februari 2014

Dan Bugis-Makassar

DAN BUGIS-MAKASSAR
Ali Syahban Amir

Siul-siul seruling hari-hari hangat.
Tanah Bugis-Makassar Berkawan malaikat pencatat dosa yang bukunya hampir penuh.
E, adat turunan leluhur seakan sudah dicetak dalam dongeng pengantar tidur saja.
Budaya condong kearah matahari terbenam dengan telanjang merobek kitab suci
Kemudian berdebu ditaruh gudang setara buku lama santapan rayap.

Siul-siul seruling hari-hari hangat.
Anak melupa,
Moyang terlupa,
Hati melupa,
Adat terlupa,

Dimana jagonya ayam jantan dari timur,
Apa kau taroh di kandang punya pejudi?
Akankah “Sa’ri Battang” hanya sebatas sapaan rezim?

Siul-siul seruling hari-hari hangat.
Miskin benar pencari uang.
Mandor berdiri buruh patah tulang terbanting untuk uangmu.
Bugis Makassar dengan lantunan Siri’ na Pacce.

Siul-siul seruling hari-hari hangat.
Gula-gula palsu sang pengeruk
Ditatap  lirih bocah dekil himpitan gedung,
Senyumnya adalah torehan sejarah baru masa ini,
Kan menjadi lafadz Sinrili’dimasa mendatang.

Siul-siul seruling hari-hari hangat.
Semua akan baik-baik saja.
Selama Rewanya masih digaris Siri’ na Pacce,
Selama tabuhan gendang berirama dalam darah sekian  melodiPui’-Pui’ termaktub dalam jiwa.
Dan tanah Bugis-Makassar
Kau kan nikmati Hangatnya hari  yang senada dengan harmoni siul seruling Jiwa yang mengerti.





Jumat, 31 Januari 2014

PERINGATAN HARI BUMI 22 APRIL 2013

PUISI PERINGATAN HARI BUMI 22 APRIL 2013
Banyorang Kec.Tompobulu Kab. Bantaeng Sul-Sel Indonesia

SIMPHONY HIJAU
Oleh : Ali Syahban Amir

Bumiku bumimu,
Bumiku adalah hatimu
dan hatimu adalah bumiku.
Kalau ada yang merusak bumiku
Berarti ia telah menyakiti hatimu,
Dan sebaliknya
Bumiku hancur hari ini,
Dimana aku akan bernostalgia akan sempurnanya alamku,
jika hijaunya tak lagi lestari di hati ini?

OOO, Batara pencipta langit!!
Bumiku adalah bulaeng masagala!
mengapa gunungnya banyak yang tandus
mengapa tanahnya tercambuk banjir
mengapa abrasi mengancam lautnya
Tulang-tulang langitnya pun patah,
jerumuskan manusia pada kematian.

OOO, Batara pencipta Bumi!!
Apa tak ada lagi yang namanya Tomanurung
yang bersed

Senin, 01 April 2013



Pahit manis selalu datang silih berganti, tapi hitam, tetaplah hitam.
saya terlalu labil dalam bersandiwara, namun hitamku tetap, dan masih saja hitam!
adakah warna lain untuk ceritaku esok?
semoga bersamamu, itu bisa terjadi!
terserah, mau merah, kuning, hijau, ungu, nila,=>(Kata DG.Pata)
sebab kau adalah pelangi bagiku! I LOVE U! *Ededeh Sarru'na kopia!*

Selasa, 18 Desember 2012

PUISI "LAH"

Ali Syahban Amir Anggap saja, Aku adalah 1 dari 1000 lelaki yang ingin tinggal di hatimu Aku ingin jujur, jujur berkata sebenarnya. Puisi ini kutulis, dengan pulpen yang baru saja kuambil dengan menutup mata sebuah tas milik temanku. Begitu pula hatimu, Kuingin mengambilnya dengan menutup mata 999 lelaki yang mau padamu. Saat ini, kutak ingin membawakanmu sekuntum bunga. Tapi sungguh, ku hanya ingin membawakanmu sehelai kain. Karena, aku akan membersihkan hatimu dari rasa tak suka, Dan ku menggantinya dengan sesuatu yang indah. Itulah yang kusebut cinta.

Kampus Biru, 1 Desember 2010

Puisi "Mengundurkan Diri"

Ali Syahban Amir Saya mengundurkan diri dari produksi cerita panjang hidup ini. Tuhan gantikan saya dengan pemeran yang baru. Mungkin masih ada yang lebih sanggup menjadi aktor utama. Ku tak bisa maksimal. Saya sudah capek tak bisa menjiwai peranku. Terlalu pedih. Masa peran yang kudapat dalam hidupku susah terus!? Apalagi jadwal take-nya terlalu padat, lokasinya juga tandus. Haus, Barang sampai, makanku dalam sehari Cuma sekali. Bahkan, tidak makan sekalipun. Tuhan cancel saja saya. Saya tidak tahan debu lighting tua yang terlalu panas. Lebih baik, batalkan saja kontrak hidup ini, Cari saja pemeran pengganti. Biar rasa yang sering kurasa dapat dirasa oleh perasaannya. Tuhan, Jangan bilang bahwa saya adalah pemeran terbaik untuk lakon yang satu ini… Gowa, 18 Desember 2010 Rev.Bulukumba, 8 jan 2011

Puisi "Dan Bugis-Makassar"

Ali Syahban Amir Siul-siul seruling hari-hari hangat. Tanah Bugis-Makassar Berkawan malaikat pencatat dosa yang bukunya hampir penuh. E, adat turunan leluhur seakan sudah dicetak dalam dongeng pengantar tidur saja. Budaya condong kearah matahari terbenam dengan telanjang merobek kitab suci Kemudian berdebu ditaruh gudang setara buku lama santapan rayap. Siul-siul seruling hari-hari hangat. Anak melupa, Moyang terlupa, Hati melupa, Adat terlupa, Dimana jagonya ayam jantan dari timur, Apa kau taroh di kandang punya pejudi? Akankah “Sa’ri Battang” sebatas sapaan rezim? Siul-siul seruling hari-hari hangat. Miskin benar pencari uang. Mandor berdiri buruh patah tulang terbanting untuk uangmu. Bugis Makassar dengan lantunan Siri’ na Pacce. Siul-siul seruling hari-hari hangat. Gula-gula palsu sang pengeruk Ditatap lirih bocah dekil himpitan gedung, Senyumnya adalah torehan sejarah baru masa ini, Kan menjadi lafadz Sinrili’dimasa mendatang. Siul-siul seruling hari-hari hangat. Semua akan baik-baik saja. Selama Rewanya masih digaris Siri’ na Pacce, Selama tabuhan gendang berirama dalam darah sekian melodi Pui’-Pui’ termaktub dalam jiwa. Dan tanah Bugis-Makassar Kau kan nikmati Hangatnya hari yang senada dengan harmoni siul seruling Jiwa yang mengerti. Makassar, 20 Agustus 2011

Kamis, 20 Mei 2010

Puisi Untuk Talas

Puisi Untuk Talas
BAGIMU YANG TERBARU
KARYA : ALI SYAHBAN AMIR
Talas…
Terbayang benteng kesabaran yang menjadi tabir duka,
saat sapaan segan menyambut tanpa dilirik.
Tanpa dendam tetap berjalan, ikhlas hati menjadi cawan setia bagimu.

Hasrat,
hasrat tuk mengikutimu bertumpu beriringan,
terpahat seperti rumpun bambu di belantara kota..
harapku menjadi jembatan di gerbang samuderamu,
bukan tuk menjadi penghalang di tegas langkahmu.

Kami berdiri dengan nafas tercegang,
Seperti ketika memandang indah mentari yang terbit di disisimu,
Hingga senarai kukuhmu seakan berteriak kemari...
Kemarilah ke singgasana karya,
di ujung benang kreasi, kita sulam jarum kebersamaan,
jangan berhenti menyelami ikrar budaya,
walau tetesan nafas terakhir mengering…


Kami faham, sampai bukti kebesaran hati menjadi janji yang berlabuh di pengharapan…
Karena Jika seuntai doa terus mengalir dari lapang hati,
maka muara bakti akan menggapai lautan mimpi…
Dan syukur, rahasia kejenuhan kini terdesak di antara retorika kesopanan…
Dengan dinaungi rasa hormat yang mendalam, sumpah setia pasti menjadi cetakan di pundak kami.
Yakin kami di Satu tujuan, ingin melanjutkan langkah kaki sang kakak…

Hormat, menjadi benih unggul di ladang beretika,
sebab itu di sirami kesabaran dan kesadaran serta keseganan.
Kesabaran membuat induk tetap membimbing tunas,
Dan kesadaran membuat tunas selalu berpena di hadapan sang induk,
Serta keseganan membuat tak seorang pun berani meludahi induk hingga tunas.
Hidup kami memiliki itu…

Pecayalah,
Talas,
Kami,
Bagimu yang terbaru…


Kampus Biru, 20 Mei 2010